Selasa, 07 Mei 2013

Maqom Para Hamba

Ada kalangan yang diposisikan Allah untuk berkhidmah (bakti) kepada-Nya, dan ada kalangan yang oleh Allah dikhususkan mencintai-Nya. “Kesemuanya Kami anugerahi mereka, dan mereka itu mendapatkan anugerah dari Tuhanmu, dan anugerah Tuhanmu tidaklah terhalang”.
Tiba-tiba Kang Soleh berpidato layaknya Kyai saja. Ia kutib dawuhnya Ibnu Athaillah.
Para hamba Allah ada yang masih dalam tahap sebagai hamba yang penuh berikhtiar untuk melakukan perjuangan dan pengabdian. Mereka ini adalah para Muridin, yaitu para hamba yang terus berharap agar bisa wushul kepad Allah Ta’ala.
Mereka ini terdiri atas tiga golongan: Pertama, kaum ‘Ubbad, yaitu ahli ibadah. Kedua, A-Zuhad, yaitu para ahli zuhud yang disebut sebagai para Zahid. Kaum yang berusaha menepiskan dunia dari hatinya. Ketiga, kaum ahli Thaat, yaitu ahli kebajikan.
Kaum ‘Ubbad adalah mereka yang selama ini tekun beribadah dengan tujuan agar menghasilkan suatu balasan dari Allah atas ibadahnya
Sedangkan kaum Zahid alah mereka yang lari dari kepentingan duniawi, membuang hasrat duniawi demi konsentrasi jiwa pada Allah agar kelak jiwanya bersih dari dunia dan dunia hanya ada dalam akal, pikiran dan indera fisiknya belaka. Mereka terus menekuni dzikrullah pagi hingga sore hari, sore hingga pagi hari.
Ahli Tha’at adalah mereka yang berusaha menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya, terus menerus berbuat kebajikan agar apa yang dilakukan benar-benar selaras dengan perintah dan kehendak-Nya. Mereka harus berbuat ketaatan, karena mereka akan merasa tersiksa manakala terlempar dari kepatuhan pada Allah Ta’ala.
Ketiga kalangan di atas menempuh jalur maqomat aubudiyah.
“Stop Kang…Stop… !! aku mumet. Jangankan mencari posisiku, memahami saja pidatomu itu sudah mbrodoli rambutku. Gampangnya gimana gitu…” protes Pardi menghangatkan suasana pagi.
“Sebentar Di…, saya ini belajar pidato, kamu ndengarin atau tidak, bukan urusan saya. Saya sedang pidato dengan angina, pada daun-daun, pada kompor dan pada sungutmu itu….”
“Wah… kalah pildacil. Kenapa nggak ikutan lomba sekalian Kang…?”
“Itu kan tontonan. Saya lagi gremengan menurut saya sendiri untuk saya sendiri. Kalian tinggal dengarkan, kan beres…”
“Terus Kalau begitu Kang…”
“Sementara para hamba yang diposisikan secar istimewa melaui jalan Cinta, juga terdiri dari tiga golongan:
Pertama Al-Muhibbun (para pecinta Allah). Seorang pecinta, tandanya akan senantiasa mempriotaskan yang dicintai, di atas segalanya. Seorang pecinta diliputi kerinduan yang dahsyat untuk memadu kasih dengan-Nya, agar ia sendiri siap memanggil dan bermunajat dengan-Nya. Dengan panggilan Wahai Kekasihku… Dan kelak ketika ia menemukan Kekasih Yang Hakiki, ia meraih tahap yang disebut dengan Al-Mahmbubin, yang dicintai-Nya. Tahap agung tiada tara
Kedua, Al-‘Arifun (para ahli ma’rifat). Seorang hamba yang ma’rifat kepada Allah Ta’ala, akan senantiasa menyaksikan Allah dimana-mana, dalam segala yang ada, diatas yang ada, di bawah yang ada, sesudah dan sebelum  yang ada semesta ini. Kaum ‘Arifun senantiasa Musyahadah (menyaksikan Allah) dalam apa pun, dan puncak musyahadah itulah ma’rifat yang sesungguhnya. Musyahadah itu ada dalam jiwa, bukan dalam wacana dan akademika. Karena itu jika seseorang merasa ma’rifat tetapi tidak ada musyahadah, maka ma’rifatnya bisa fatamorgana.
Banyak juga yang mengklaim atau diklaim telah ma’rifat hanya karena seseorang mengetahui yang ghaib dan tersembunyi. Klaim itu tidak benar sama sekali, karena orang yang ma’rifat tidak punya kepentingan dengan yang tersembunyi, rahasia sesuatu, kecuali yang disaksikan hanya Allah belaka.
Ketiga Al-Wahilun (orang-orang yang sudah sampai kepada Allah). Pertemuan Allah dengan hamba bukanlah pertemuan dzat dengan dzat. Bukan pula pertemuan dua hal yang berbeda seperti imajinasi kita. Pertemuan itu tidak memberikan peluang kepada apapun, karena “apapun” itu tidak pernah ada, kecuali yang ada hanya Allah Ta’ala. Ia tidak butuh apapun. Al-Washilun adalah kaum teristimewa dari sebelumnya (lihat Asy-Syuura: 13).
Allah menganugrahi derajat ruhani menurut kehendak-Nya tanpa ada yang menghalangi, mencegah sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa didahului sebab akibat. Semua dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Oleh sebab itu kita semua harus belajar memandang semuanya sebagai anugerah, keutamaan dan rahmat-Nya. Begitu…. Saudaraku…”
Tepuk tangan menggemuruhi kedai Cak San. Dasar Kang Soleh kadang seperti kanak-kanak, kadang lebih tua dari kakek-kakek. Dasaaar…….


Sumber :  Kedai Sufi
Oleh : Mohammad Luqman Hakiem - Cahaya Sufi Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar