Selasa, 07 Mei 2013

 Cahaya Illahi

Listrik di seluruh desa tiba-tiba mati. Biasa, PLN suka byar pett, tanpa mengindahkan konsumen. Tapi kalau telat membayar rekening listrik sehari saja, petugas PLN begitu garangnya memutus aliran listrik. Untung orang-orang di desa itu, cukup menyalakan lampu minyak, kembali seperti zaman sebelum listrik masuk desa.

“Ternyata PLN lebih kejam daripada ibu tiri,” gumam Pardi sambil terus nggedumel ngalor ngidul.

Sampai pagi hari lampu listrik belum juga menyala. Kedai Cak San hanya disirami cahaya lampu ublik yang tidak terang.

“Baru saja gelap di dunia, kita sudah resah, bagaimana nanti kalau kita memasuki kegelapan di akhirat?” sindir Dulkamdi.



“Kamu jangan sok akhirat, Dul,” timpal Pardi.

“Bukan sok akhirat, tapi akhirat itu pun sebenarnya lebih dekat dibanding diri kita terhadap kita,” balas Dulkamdi dengan gaya filosufisnya.

Pardi cuma bisa bersungut-sungut. Tapi Cak San yang mendengarkan obrolan kusir dua manusia itu, hanya cengar cengir belaka. “Soal listrik mati saja kok sampai akhirat,” celetuk Cak San.

Soal urusan mati listrik dan akhirat, akhirnya jadi perdebatan sengit antara pelanggan Kedai Cak San. Mereka tentu berpendapat dengan argumentasi masing-masing, tanpa bisa dikompromikan lagi. Di satu pihak, Pardi dan sebagian yang lain, tidak menginginkan urusan fisik, empirik, dan yang serba kasat mata, dipaksakan agar menjadi sakral. Yang profan biarlah urusan dunia, dan yang sakral biarlah urusan akhirat. Sementara Dulkamdi dan Cak San terus ngotot, agar listrik itu punya hubungan langsung dengan akhirat. Listrik, betapa pun bersifat profan dan instrumental, menjadi salah satu sarana manusia bisa beribadah, dan bahkan listrik itu, betapa pun yang menemukan adalah Thomas Edison yang nonmuslim, merupakan anugerah dari titik Cahaya Ilahi di dunia.

Perdebatan itu akhirnya sedikit mengalami jeda, ketika Kang Soleh masuk. Sebab mereka yang hadir, yang pro maupun yang kontra berharap dapat solusi kompromi, setidak-tidaknya bisa berlindung di balik argumen Kang Soleh.

Tapi setelah sekian menit ditunggu, Kang Soleh diam saja. Kaki dan jemari tangannya bergerak menghentak-hentak seperti menikmati sebuah musik rancak yang indah. Kang Soleh seperti asyik dengan sendirinya.

“Kok tidak diteruskan diskusi tadi?” tanya Kang Soleh menyentak kesunyian.

“Nunggu pendapat sampean Kang…”

“Kalau semua nunggu saya, kapan kalian bisa mandiri. Orang sufi itu harus punya kemandirian jiwa, tapi tidak boleh sombong, karena di atas langit itu masih ada langit. Kalau sudah mentok betul, kita bareng-bareng datang ke mursyid kita, pasti beliau punya solusi. Yang penting jangan takut salah,” jawab Kang Soleh sedikit berdemokrasi.

“Sebenarnya persoalan kita kecil, Kang. Tapi bisa menjadi persoalan nasional, bahkan bisa juga jadi persoalan para malaikat, Kang…” celethuk Pardi.

“Saya sudah sedikit mendengar tadi…”

“Jadi bagaimana menurut sampean..?”

“Menurut saya, ya, kita tinggalkan saja soal listrik atau padamnya itu. Semuanya kan makhluk Allah. Semuanya tidak diciptakan kecuali mengandung kebenaran. Kita renungkan saja hikmahnya. Di sana banyak pelajaran berharga…”

“Soal ilmu elektronika?” sahut Dulkamdi.

“Bukan, soal hati kita. Hati kita itu Rumah Allah. Qalbul Mu’mini Baitullah. Jadi karena kalbu kita semua adalah Rumah Allah, jangan diisi dengan segala hal selain Allah. Soal-soal dunia, soal-soal yang berkait dengan jagad raya, soal-soal yang menyangkut kehidupan sehari-hari kita, jangan dimasukkan dalam hati. Semua itu cukup urusan akal dan pikiran saja. Akal kita, mata kita, telinga dan mulut kita, hidung kita, tangan dan kaki kita, untuk mencari makan saja. Hati kita untuk Allah saja, untuk Allah saja.


“Caranya bagaimana, Kang?”
“Caranya, ya dengan kita terus menerus mengingat atau zikir kepada Allah. Hati kita yang berzikir. Kalau tidak, akan diserobot oleh iblis, setan, dan nafsu. Akal pun jangan masuk dalam hati, kita bisa stres, konslet, lalu, hati kita byar pett, padam, gelap dan nantinya bisa sesat…..”


“Nah, apa kataku, ada kan hubungan byar pett listrik dengan akhirat,” kata Dulkamdi membela diri.

“Ada kalau semuanya dikembalikan kepada Allah. Tapi kalau tidak, ya sama saja,” tangkis Pardi tidak mau kalah.
“Sudahlah. Begini saja, soal listrik yang menyala, itu disebabkan karena ada generator yang terus hidup. Jika tidak kan mati juga. Begitu pula, kalau hati kita hidup, hati kita berzikir, kalbu kita terus-menerus mengenang Ilahi, maka seluruh Rumah Allah di dalam hati kita akan bercahaya, seluruh ruang akal dan budi kita bercahaya, pikiran dan penglihatan batin kita bercahaya, dan segalanya menjadi terang benderang….


Makanya, kalau hati kita hidup, segalanya jadi jelas. Jangan sampai, dian abadi dalam hati ini, dihembus oleh setan atau nafsu. Nanti kita bisa gelagapan di tebing jurang yang gulita.”

“Ladalaaa…….!” kata mereka serempak. Sebab, secara kebetulan saja, usai Kang Soleh bicara soal Rumah Allah yang bercahaya, listrik di kampung itu menyala lagi.

Tapi, mereka tampaknya tidak terlalu peduli. Apalah arti cahaya listrik yang terang benderang, jika hati tidak lagi terang? Apalah arti matahari yang menyiramkan cahayanya, jika saja kalbu-kalbu hamba Ilahi tidak lagi hidup dalam sunyi?



Sumber :  Kedai Sufi
Oleh : Mohammad Luqman Hakiem - Cahaya Sufi Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar